Hari itu 30 Maret 2010.

Aku sudah menyiapkan hati untuk sebuah misi. Targetnya adalah gadis berkerudung putih yang setiap sore mengunjungi perpustakaan. Aku tidak pernah mendengar suaranya. Hanya saja sepertinya ia gadis yang ramah. Ya, sudah kutulis poin-poin pembicaraan pada selembar kertas hijau. Hijau berarti jalan terus, bukan?

Kali ini, ia tampak begitu serius membaca sebuah buku tebal. Alisnya berkerut..

“Ehmmm.. kamu seperti sedang menyelam ke dalam buku itu… apakah arusnya kuat?” tanyaku sok puitis,  sok berani.

Lima detik. Sepuluh detik. Gadis itu masih diam. Aku menarik kursi di sebelahnya dan meletakkan panggulku perlahan.

“Ah, selesai..” ujarnya tiba-tiba. Mengagetkanku.

Seulas senyum ia hadirkan di wajahnya yang menurutku tidak begitu cantik. Tapi ia sangat menarik. Matanya seperti….

“Maaf aku harus membaca sampai selesai pada bagian yang tidak boleh terputus. Jadi aku meneruskan menyelam sebelum menjawab sapamu..”

Aku tersenyum. Gadis ini diam, tak menjawabku seketika itu juga. Tapi inderanya merekam sapaan yang telah kususun sepanjang malam.

“Seorang gadis membaca buku tentang pernikahan.. kalau boleh kutebak kamu sedang merencanakannya, bukan?” tanyaku sok well.. sok yes.

Seulas senyum lagi. Ah, betapa kuatnya magnet gadis ini…

“Apa kamu pernah jatuh cinta?” ia bertanya seolah pertanyaanku tidak pernah ada.

“Ya. Tentu. Bahkan saat ini, aku sedang jatuh cinta..”

“Bagus. Lalu apa yang kaulakukan pada cintamu yang sudah jatuh itu?”

Ia menggeser duduknya. Sedikit menjauh dariku. Lalu menghadapkan dirinya padaku. Semoga ia tidak melihat kegugupan di depannya.

“Err… aku akan mengatakan padanya.. ya, pasti itu..”

“Apakah dalam waktu yang sama kau bisa jatuh cinta dua kali? Maksudku.. berkenalan dengan si dewi, jatuh cinta.. lalu melihat si desi, jatuh cinta lagi…”

Aku diam. Takut salah menjawab.

“Apakah kamu berpikir bahwa cinta adalah soal ketertarikan?”

“Kurasa untuk jatuh cinta, perlu semacam reaksi tarik menarik..” jawabku begitu saja.

“Ya, kau benar. Tapi apakah jika kamu adalah ujung tali dan yang kaucintai itu ujung tali yang satunya, dan di tengahnya diletakkan beban.. kamu berpikir untuk membagi ujung tali menjadi dua kemudian menambahkan beban di antaranya?”

“Err…”

“Begini deh. Pengertian cinta adalah tanggungjawab, kau setuju?”

“Tanggungjawab? Apa hubungannya cinta dan tanggungjawab?”

“Apakah kamu mencintai orangtuamu?”

“Ya, tentu saja.”

“Apakah kamu tidak merasa bertanggungjawab atas amanah mereka? harapan mereka? kebahagiaan mereka?”

“Ya. Meskipun belum sepenuhnya..”

“Bagaimana dengan cintamu pada Tuhan..”

Aku berpikir. Gila perempuan ini. Ia seperti mesin pertanyaan bagiku.

“Bagaimana dengan cintamu pada alam? pada sesama?”

Akhirnya aku terdiam. Magnet macam apa yang ada pada gadis ini.. daya tarik dan daya tolaknya begitu kuat. Ia seperti memiliki medan magnetnya sendiri. Dan aku, sementara ini, tidak mampu masuk ke dalamnya..

“Jadi.. cinta itu hanya ada dua orang saja. Seorang pria dan seorang wanita. Ibarat kunci dan gembok.. atau enzim dan substrat.. atau obat dan reseptor.. cinta adalah upaya penggenapan.”

“Dimana posisi orang ketiga?” tanyaku meluncur begitu saja.

Ia menggeleng cepat.

“Tidak ada tempat bagi  orang ketiga. Menurutmu jika satu ditambah dua, apakah itu bukan pengganjilan namanya?”

Sekejap ia berdiri dan melangkah mendekat. Buku yang tadi ia baca, digesernya ke dekatku.

“Cinta itu tidak berarti tidak boleh jatuh cinta berkali-kali.. kecuali pada orang yang sama..”

Segaris senyum lagi. Lalu ia berlalu meninggalkanku dalam kebingungan.

======

29 Maret 2011

Gadis kerudung putih yang setahun lalu menyita perhatianku kini ada di sampingku.

“Apakah wanita adalah tulang rusuk pria?” tanyaku padanya.

“Apakah menurutmu tulang rusuk pria ada dua jadi pria berhak mencintai dua wanita?”

“Upss..” aku menutup bibirku dengan telapak tangan. Bertingkah seolah salah berucap.

“Pastikan hatimu tidak akan terluka dan harga dirimu tidak tercabik-cabik sebelum kamu merasa berhak untuk membuat perbandingan.. atau dibandingkan..”

Ia kini gadisku. Masih dan sepertinya akan terus menjadi semacam mesin pertanyaan. Dan gayanya itu..

Seulas senyum kilat. Selalu. Sebelum ia membuatku berpikir sendirian…

======

Hari ini, 25 Februari 2012.

“Lihat deh sayang, ada perempuan cantiiiik banget…”

“Alhamdulillah… suamiku masih normal.. masih bisa lihat cewek cantik..”

Bersama segaris senyum, ia berlalu meninggalkanku dan troly penuh belanjaan bulanan. Aku harus cepat-cepat mengejarnya.. wanita berkerudung putih itu..

 

42 Responses to Jatuh Cinta Berkali-kali

  1. Jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama? Hm, keren Mbak ceritanya..:) :music:

  2. bunda lily says:

    hehehhe…setuju Din, jatuh cintalah berkali kali pada orang yang sama
    akan menambah kebahagiaan dan kenikmatan dlm rumah tangga kita dari Sang Maha Pemberi Nikmat
    salam

  3. marsudiyanto says:

    Istri saya kerudungnya biru…

  4. Mas-Giy says:

    sebuah cerita yang terasa berat untuk dicerna, tulisan yang bermutu!!!

  5. anna says:

    aih, semoga suamiku juga begitu ah… jatuh cinta sma aku setiap hari…

    cerpennya bagus Nan…
    dari sudut pandang laki2 ya..
    tadinya smpat salah terka… :)

  6. Suratman Adi says:

    Gadis berkerudung merah Opss kerudung putih sosok yang misterius bgt tuh,

    Saya suka dengan penggalan kalimat “Jatuh cinta berkali2 pada org yg sama”

  7. Masa Tours says:

    Kalau saya selalu sering jatuh cinta dengan orang yang sama juga Mba, kepada mantan pacar saya (istri). Salam kenal pada kunjungan perdana ini.

    Sukses selalu
    Salam,

  8. gaya bahasa dan konten cerpennya bagus bgt Mbak…

  9. Ditter says:

    Aaah… jadi pengen cepet-cepet nikah ni, ahahaha….

  10. cinta itu tanggung jawab :)
    keren apa lagi di tambah penjelasannya :smile:

  11. ceritabudi says:

    Cinta berkali-kali dg orang yang kita cintai seumur hidup akan nikmat mbak yach , salam jumpa lagi mbak nandini

  12. susu segar says:

    wah wah wah. . . . perlu pembenahan diri untuk sebuah cinta. . .

  13. Niar Ningrum says:

    “liat deyh sayang ada cewek cantik?” tinggal di keplak ajah gitu ituh.. *plak plok :p :lol:

  14. giewahyudi says:

    Wah ini nih seninya jatuh cinta.. :nyucuk:

  15. usagi says:

    :music: :gross: :sleep:
    kerennn
    aku kalau bagian fiksi nyerah dah..
    padahal pengen banget ituhh

  16. vizon says:

    Setuju sekali, CINTA = TANGGUNGJAWAB
    Fiksinya keren sangat.. :)

  17. jadinya mau pake keredung putih juga biar di kejar kejar nih… bagus cerita fiksinya…

  18. arif says:

    mo nerusin baca ampe kelar, ga kuat, ntar jadi keingat cerita masa lalu >,< he3 :D

  19. memang selagi cintanya masih basah , kalau sudah kena angin waktu terlalu lama bertahun, tua, keringlah , tinggallah kasihannya. bagus isinya,salam kenal mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:music: :gross: :-x :nyucuk: :sleep: :nyungsep: :twisted: :?: :evil: :bignose: :surprise: :smile: :cry2: :roll: 8) :die: :-o :-? :cemberut: :fufu: :-P 8-O :-S :hoahmm: :lol: :cry: :redface: :( :ngantuk: :oops: more »